Daftar Tulisan
Arsip Tulisan
Statistik Kunjungan
  • 371822Total Pengunjung:
  • 1Hari ini:
  • 82Kemarin:
  • 0Online:
Panel Login

Selamat Datang di www.FitrianyGustariny.com || Website Pribadi Ir. Fitriany Febby Adiana Gustariny, SE, MP, M.Pd.E (Guru SMA Negeri 2 Rambatan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat)

PERJALANAN MENUJU SEAMEO BANGKOK

Jumat, 15 Februari menjelang pukul 15.00, para peserta Jelajah Literasi Bangkok MediaGuru Indonesia telah lengkap berkumpul di tempat meeting point, DMK-Bangkok. Saat berkumpul di meeting point ini, Muhammad Ihsan, CEO MediaGuru memberikan pengarahan tentang hal apa yang akan dilakukan di tempat seminar serta lokasi lainnya yang akan dikunjungi selama di Bangkok ini. Demikian juga Pimpinan Redaksi (Pemred) MediaGuru Indonesia, Eko Prasetyo memberikan pengarahan dan petunjuk tentang hal apa yang akan ditulis oleh para peserta jelajah literasi Bangkok ini. Semua kisah perjalanan silahkan ditulis, mulai dari pendidkkan, ekonomi, sosial, kebudayaan, agama, suku, kuliner, lokasi yang dikunjungi, dan sebagainya yang dirasakan sangat berkesan dan dirasakan sangat bermanfaat. Tentu tak lupa diingatkan bahwa masing-masing peserta harus menyetorkan hasil tulisan kepada Media Guru, dengan syarat-syarat penulisan sesuai yang berlaku pada Media Guru. Nanti semua tulisan para peserta akan dijadikan buku Antologi, dan masing-masing peserta akan mendapat 3 buah buku. Tentu saja mendengar arahan dan penjelasan dari Pemred MediaGuru yang memang tulisannya keren-keren, para peserta jelajah menjadi lebih bersemangat.

Usai arahan dari pihak Media Guru, dilanjutkan arahan dari Pemandu wisata. Selain memberikan arahan pemandu wisata juga melakukan absensi peserta, setelah lengkap kami menuju mobil.

Pengarahan oleh Pemandu Wisata di DMK-Bangkok (Jumat, 15/2/2019, foto pribadi)

Kami para peserta dibagi menjadi 2 rombongan. Ada 2 bus besar bertingkat yang akan membawa kami ke lokasi tempat seminar, kantor SEAMEO (Southeast Asian Ministers of Education Organization) di Kota Bangkok. Empat sekawan (aku, Pipit, laila, dan si “pengawas keren”) mendapat bus nomor 2.

Dokumentasi foto di atas bus saat menuju lokasi seminar SEAMEO Bangkok (Jumat, 15/2/2015, foto pribadi)

Sebenarnya sebelum keberangkatan ke Bangkok pembagian bus sudah dilakukan. Waktu itu aku dan Pipit mendapat bus nomor 1. Aku lihat orang-orang yang duduk di bus nomor 1 adalah para pejabat Media Guru, peserta yang sering menjadi nara sumber Media Guru,serta orang-orang penting lainnya. Namun, karena 2 orang temanku si “pengawas keren” dan Laila berada di bus nomor 2. Sehingga si “pengawas keren” meminta aku dan Pipit pindah ke bus nomor 2. Tujuannya agar perjalanan di Bangkok kami EMPAT SEKAWAN tidak terpisah. Aku dan Pipit dengan mudah dapat pindah ke bus nomor 2. Karena banyak peserta bus 2 yang ingin pindah ke bus nomor 1, maklum bus nomor 1 jadi rebutan, karena banyak orang penting di dalamnya. Bagiku tak pentinglah dapat bus nomor 1. Bagi kami empat sekawan bus nomor berapa saja tak apa, yang penting kami empat sekawan bisa tetap bersama.

Saat menuju lokasi SEAMEO di atas bus aku duduk bersebelahan dengan si “pengawas keren”, sedangkan Pipit duduk dengan Laila. Selama perjalanan menuju SEAMEO, pemandu wisata memperkenalkan diri, serta bercerita tentang kota Bangkok.

Menurut keterangan pemandu wisata ini bahwa bandara DMK-Bangkok adalah bandara lama. Bandara yang baru bernama Suvarnabhumi. Bandara baru Suvarnabhumi ini kira-kira telah 12 tahun menggantikan DMK-Bangkok. Keduanya sama-sama bandara Internasional. DMK-Bangkok ini tempat Pesawat Thai dan Air Asia, juga untuk penerbangan lokal, serta bisa juga yang carter (menyewa pesawat). Sewa di pesawat di DMK-Bangkok ini tidak mahal, berbeda dengan di Suvarnabhumi, mahal.

Pemandu Wisata Buchori sedang bercerita tentang Kota Bangkok (Jumat, 15/2/2019, foto pribadi)

Terdengar pemandu wisata menyebut sebuah nama Sukhumvit, yaitu sebuah jalan paling panjang dan paling macet di Bangkok. Aku juga pernah baca di internet bahwa jalan Sukhumvit ini kalau dianalogi dengan jalan di Jakarta sama seperti dari Blok M hingga Monas. Jalan Sukhumvit ini dilayani beberapa stasiun laying BTS. Lanjutan jalan ini adalah Rama I.

Meski menurut pemandu jalan Sukhumvit yang akan dilalui panjang dan macet, dan suhu di luar yang panas (34 derajat Celcius), namun aku tetap bersemangat mendengar celotehannya. Karena menurutku informasi yang dijelaskan tentu banyak manfaatnya bagi ku yang masih asing dengan kota Bangkok ini. Selama perjalanan aku tidak tidur, berbeda dengan peserta yang lain, ada yang tidur. Maklumlah mereka tidur, mungkin karena kelelahan setelah perjalanan dari tanah air. Apalagi saat perjalanan tidak ada terdengar klakson.

Mengenai hal tidak adanya bunyi klakson di kota Bangkok ini sama juga saat aku berkunjung studi banding ke Malaysia tahun 2015. Begitu juga saat aku melakukan kegiatan Wisata dan Bengkel Puisi Tingkat ASEAN ke Brunei Darussalam tahun 2018.

Menurut Buchori nama Pemandu Wisata Bangkok ini bahwa orang Bangkok terkenal sabar benar, sehingga bila ada macet pun tetap sabar. Bapak supir sabar, penumpang sabar. Sehingga tak ada suara klakson, sunyi senyap. Suara klakson jadi suatu penyakit. Penyakit yang membuat stress.

Pemandu wisata menjelaskan bahwa bus nomor 2 ini dengan pemandunya Buchori. Selama perjalanan di Bangkok peserta dpastikan di bawa makan ke tempat makan yang halal, kemudian cari tempat yang ada salat di musala atau masjid. Sebagaimana diketahui kota Bangkok ini adalah kota agama Budha. Di sini 90 persen beragama Budha. Penduduk beragama Bundha, Raja juga beragama Budha. Muslim hanya 5 persen, sisanya 5 persen lagi gabungan Kristen, Hindu, dan Varma. Menurut Buchori, sebelum masa kerajaan Sriwijaya, di sini penduduknya beragama Hindu, tapi setelah itu beralih menganut agama Budha.

Kota Bangkok memiliki nama internasional Bengkok. Namun orang Bangkok menyebutnya Krung Thep (Kota Dewa), Krung = Kota, Thep=Dewa. Krung Thep ini nama pendek, ada nama panjangnya. Pemandu wisata Buchori ini menyebut nama panjang tersebut. Heran juga aku, hapal juga pemandu wisata ini nama sepanjang itu. Dua kali Ia mengulangi nama yang panjang tersebut dengan logat yang cukup enak dan lucu jugalah didengar telinga: Krung Thep mahanakhom Amon Rattanoksin Mahinthara Yuthaya Mahadilok Phop Noppharat Ratchatani Burirom Udomratcaniwet Mahasathan Amron Piman Awatan Sathit Sakkathattiya Witsanukam Prasit. Menurut Buchori nama itu adalah nama kota yang terpanjang di dunia.

Krung Thep (Kota Dewa), sesuai namanya Kota Dewa, maka menurut kepercayaan orang Thailand, di atas di bawah, di tanah, di bumi, di mana-mana ada dewa. Dalam makanan ada dewa. Tanah subur karena dewa. Bahkan mereka percaya bahwa anak raja adalah turunan dewa. Oleh karena itu rajanya disebut Maharaja yang berasal dari Mahadewa. Dijelaskan juga oleh Buchori bahwa penduduk Bangkok bahasanya sedikit dari Hindu, sedikit dari Budha, sedikit dari Varma, sehingga ketiga bahasa tersebut digabung menjadi bahasa Thailand, dan terkenal dengan bahasa Thai. Di Bangkok ada Hindu ada Budha. Ada wihara hindu ada wihara Budha. Wihara Hindu tak sama dengan wihara Budha. Demikian juga candi Hindu dan Budha tidak sama.

Asyik juga mendengar Buchori bercerita. Bila aku hubungkan informasi dari Buchori dengan referensi yang telah aku baca di internet, pada umumnya informasinya sama. Sambil menyimak cerita pemandu wisata, aku juga memvideokan suasana jalan raya yang dilalui.

Meski perjalanan yang panjang dan macet, namun aku cukup terhibur melihat suasana jalan dengan arus kendaraan yang tertib tanpa klakson, pohon-pohon hijau peneduh jalan, bunga-bunga yang cantik, jalan layang bertingkat, jembatan layang, dan gedung-gedung megah yang ditemui selama perjalanan. Apalagi kalau mendengar cerita lucu yang keluar dari mulut Buchori. Ada saja yang diceritakannya. Buchori bercerita bahwa jalan-jalan di kota Bangkok memiliki 3 jalur, bawah, tengah, dan atas. Wow hebat juga pikirku. Tapi sudah memiliki 3 jalur, kenapa masih macet begitu panjang. Wow…ternyata jawabannya bikin senyum-senyam. Bagaimana tidak. Wong jalur bawah untuk cacing, jalur tengah untuk orang, dan jalur atas untuk burung. Ada-ada saja si Buchori ini, pintar juga membuat penumpang tertawa geli.

Saat bus berhenti sejenak di suatu tempat, dan di seberang jalan terlihat ada tulisan KFC. Melihat KFC tersebut, Buchori langsung menginformasikan bahwa hati-hati dengah KFC di sini (Bangkok). Katanya KFC Bangkok tidak sama dengan KFC di Indonesia. KFC Indonesia halal, KFC di sini tidak halal. Sebabnya apa? Sebab KFC di sini kata Buchori ayamnya tidak disembelih, tapi ayam di ketok hingga mati. Mendengar penuturan Buchori ini, beruntung aku tadi tak membeli KFC. Dan beruntung pula teman ku tadi tak jadi memakan KFC yang telah mereka beli tadi.

Akhirnya setelah melalui perjalanan yang lama, 400 meter lagi kami sampai di lokasi seminar SEAMEO. Setelah tiba di tempat parkir, kami semua penumpang bergegas turun dari bus. Ternyata bus tidak diparkir di lokasi tempat seminar. Sehingga kami harus berjalan terlebih dahulu dulu ke lokasi tersebut. Saat perjalanan menuju lokasi seminar, aku dan peserta lainnya masih sempat mengabadikan foto di depan Gedung Science Centre for Education Ministry of Education yang letaknya tidak jauh dari lokasi seminar. Lokasi seminar SEAMEO ternyata bukan di gedung ini.

Dokumentasi foto di depan Gedung Science Centre for Education Ministry of Education, Bangkok (Jumat, 15/2/2019, foto pribadi)

Selanjutnya kami masih berjalan kembali, dan akhirnya tiba di suatu dinding tembok yang bertuliskan SEAMEO. Seperti biasa, tak lupa semua peserta ambil kesempatan untuk ambil dokumentasi foto di tempat ini. Tentu saja suasana pengambilan foto di sini berebut dan buru-buru, tidak bisa lama-lama, karena harus segera menuju lokasi seminar.

Di depan dinding luar gedung SEAMEO Bangkok (Jumat, 15/2/2016, foto pribadi)

Setelah melalui pagar besi ber cat putih baru terlihat ada pintu masuk ke dalam bangunan, tentu di sini ada petugas pengamanannya. Setelah melalui pintu penjagaan tersebut, baru kami bisa memasuki halaman gedung, dan masuk ke dalam gedung yang bertuliskan Mom Luang Pin Malakul Centenary Buliding, kemudian langsung menuju lantai 5 tempat seminar. Ternyata di lantas 5, pihak SEAMEO telah bersiap-siap menunggu kami.Kami disambut dengan sangat baik. Sebelum masuk ke ruang seminar kami dibagikan brosur tentang SEAMEO dan juga makanan dalam kemasan kotak.

Mom Luang Pin Malakul Centenary Buliding, Bangkok tempat seminar SEAMEO (Jumat, 15/2/2019, foto pribadi)

Demikian cerita perjalananku bersama rombongan Jelalajah Literasi Bangkok Media Guru Indonesia sejak dari Bandara DMK-Bangkok hingga kami sampai di ruang seminar SEAMEO. Apa dan bagaimana seminar SEAMEO nantikan cerita selanjutnya. Oke!

FacebookTwitterGoogle+Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terkini
Buku Pegangan Siswa
Diktat Ekonomi SMA/MA

Bagaimana menurut pendapat Anda tentang website Fitriany Gustariny ini?

Lihat Hasil Jajak Pendapat

Loading ... Loading ...

Laporan Karya Inovatif
Berita Lainnya
SONIAN ARTIS DAN GURU
SONIAN ARTIS DAN GURU
SONIAN ARTIS DAN GURU SONIAN ARTIS DAN GURU Artis Film shootin
SONIAN MALAM MINGGU, AKU, DAN KAMU
SONIAN MALAM MINGGU, AKU, DAN KAMU
SONIAN MALAM MINGGU, AKU, DAN KAMU SONIAN MALAM MINGGU, AKU, DA
SONIAN GURU DAN DANA GAJAH PLUS SONIAN GURU DAN DANA GAJAH PL
SONIAN OMBAK DAN AKU
SONIAN OMBAK DAN AKU
SONIAN OMBAK DAN AKU SONIAN OMBAK DAN AKU Debur ombak putih
SONIAN PERAHU DAN AKU
SONIAN PERAHU DAN AKU
SONIAN PERAHU DAN AKU SONIAN PERAHU DAN AKU Kembara lautan Ta

Temukan Kami di Facebook


       

.

Galeri Foto
Klik Slideshow di bawah untuk
melihat Galeri Foto secara lengkap
20150203_121026-1.jpg
20150203_121051-1.jpg
IMG_39759949695819.jpeg
20131120_110407-1.jpg
20131120_110424-1.jpg
20131219_140230.jpg
Cerita Bergambar
Kalender
Desember 2020
S M T W T F S
29 30 1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31 1 2
Buku Tamu