Daftar Tulisan
Arsip Tulisan
Statistik Kunjungan
  • 379545Total Pengunjung:
  • 97Hari ini:
  • 143Kemarin:
  • 0Online:
Panel Login
Komentar Terkini

    Selamat Datang di www.FitrianyGustariny.com || Website Pribadi Ir. Fitriany Febby Adiana Gustariny, SE, MP, M.Pd.E (Guru SMA Negeri 2 Rambatan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat)

    Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik dalam Pembelajaran Ilmu-Ilmu Sosial di SMA

    A. Pengantar

    “Pendidikan adalah jalan terindah untuk membangun peradaban. Sehubungan dengan hal tersebut kurikulum menjadi rambu-rambu yang akan membantu dan memudahkan kita mencapai tujuan. Sebagai rambu-rambu, kurikulum seharusnya membuat materi pelajaran yang tadinya sulit menjadi mudah diajarkan, mudah dipelajari siswa. Demikian juga dengan muatan pada kurikulum ilmu-ilmu sosial. seharusnya pembelajaran ilmu-ilmu sosial ini adalah pembelajaran yang menarik, tapi fakta memperlihatkan bahwa terdapat kesalahan dalam pembelajaran ilmu-ilmu sosial ini, sehingga menjadi  pembelajaran yang membosankan, karena penuh dengan materi-materi  hapalan. Apa yang salah dengan  semua itu?,” demikian kata pembuka  yang disampaikan oleh Nara Sumber, Bapak Zulfikri Anas (dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan)  pada peserta  seminar. Adapun  Bapak Zulfikri Anas ini adalah nara sumber pertama pada  SEMINAR NASIONAL ILMU-ILMU SOSIAL  “MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN ILMU-ILMU SOSIAL DI SMA. Seminar ini dilaksanakan di LPMP Padang, Minggu 24 April 2016.

    Penyampaian Materi Seminar oleh Bapak Zulfikri Anas (dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan)  dengan judul  "Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik dalam Pembelajaran Ilmu-Ilmu Sosial di SMA" (LPMP Padang, Minggu 24 April 2016)

    Penyampaian Materi Seminar oleh Bapak Zulfikri Anas (dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan)  dengan judul  “Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik dalam Pembelajaran Ilmu-Ilmu Sosial di SMA” (LPMP Padang, Minggu 24 April 2016)

    Adapun materi seminar yang disampaikan olehk Bapak Zulfikri Anas  ini berjudul  “Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik dalam Pembelajaran Ilmu-Ilmu Sosial di SMA”. Hal apa saja yang beliau sampaikan secara lengkap dapat dibaca pada makalah/bahan presentasi yang beliau sampaikan. Selanjutnya, dari makalah tersebut hal-hal  atau bagian-bagian mana yang menurut penulis penting untuk jadi bahan catatam maka penulis salin atau ambil intisarinya  dan penulis upload di website penulis dan tentunya dengan maksud  dibagikan khusus untuk teman-teman yang tidak hadir seminar atau pihak lain membutuhkan, Dan apa isinya silahkan baca paparan di bawah ini.

     

    B. Isi Materi  Seminar

    I. Kurikulum untuk Kehidupan

    Pendidikan adalah jalan terindah untuk membangun peradaban. Sehubungan dengan  hal tersebut, kurikulum menjadi rambu-rambu yang akan membantu dan memudahkan kita mencapai tujuan. Sejatinya kurikulum itu sederhana. Ia memuat apa yang akan kita lakukan agar peserta didik yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, tidak bisa menjadi bisa, malas menjadi rajin, sembrono menjadi disiplin, pasif menjadi aktif dan kreatif, egois menjado peduli, destruktif menjadi konstruktif, tidak literat menjadi literat, dan seterusnya. Oleh karena itu, kurikulum yang dirancang harus siap mengantisipasi kebutuhan mereka, baik kebutuhan saat ia belajar maupun kebutuhan di masa datang.

    Sebagai rambu-rambu, kurikulum seharusnya membuat materi pelajaran yang tadinya sulit menjadi mudah diajarkan, mudah dipelajari siswa, dan terukur pencapaiannya oleh setiap siswa. Itulah sejatinya kurikulum. Dalam konteks itu pula kurikulum bukanlah sekedar daftar materi pelajaran yang akan dipindahkan ke dalam diri anak, melainkan sebuah rancangan atau skenario yang memberikan ruang yang seluas-luasnya kepada anak untuk mengembangkan potensi yang sudah ada dalam diri mereka. Potensi  itu bawaan sejak lahir, dan semua orang (tanpa kecuali) memilikinya. Jika demikian, mengapa masyarakat seringkali mengeluhkan bahwa kurikulum justu memberatkan bagi anak, apanya yang membuat berat?

    Barangkali kita perlu mengkaji lebih mendalam, yang jelas selama ini pendidikan di  negeri ini sudah terperangkap dalam paradigma trnsfer knowledge. Ciri-cirinya, siswa diposisikan sebagai konsumen, sekalipun sekolah menerapkan belajar aktif (active learning) tapi posisi anak tetap  sebagai pelaksana perintah, bukan penggagas. Di sekolah belajar dari pagi sampai sianh, bahkan sampai sore, di rumah mengerjakan tugas atau PR sampai larus malam. Semua mata pelajaran berlonba-lomba memberikan tugas. Cara-cara ini merampas dunia anak, dan ini termasuk bagian dati Implemented curriculum atau taught curicullum. Peserta didik akan kehilangan gairah belajar.

    Jika kita kembali ke akar kata pendidikan “educare” yang berarti mengeluarkan dan menuntun, maka pendidikan pada intinya adalah upaya menuntun agar potensi yang bersemayam dalam diri peserta didik keluar dan berkembang menjadi kompetensi.

    Semestinya dasar pengembangan kurikulum semua mata pelajaran penyumbang pembentukan sifat-sifat kemanusian. Sebagai contoh:

    1. Pelajaran Matematika

    Pelajaran matematika memberikan nutrisi pada pemikiran manusia terkait dengan keteraturan, ketegadan, perkembangan logika dari sederhana hingga kompleks, kepastian, universalitas, abstraksi, ekonomis, dan keanggunan (kesejajaran, keragaman, ritme, dan kesinambungan). Perangkat-peranfkat pemikiran lain yang disumbangkan oleh matematika antara lain: ide-ide simbol, fungsi, tranformasi, dan pembuktian. Matematika memberikan kepuasan estetik atas keberhasilan penggunaqn pikiran untuk menyingkirkan ketidakjelasan, ketidakpastian, subjektifitas, dan emosi. Di balik idr pembuktian matematis tetdapat aksioma yang diturunkan oleh premis-premis yang tidak terbantahkan. Ilmu ini sangat bermanfaat dalam penyelesaian berbagai persoalan kehidupan sehari-hari, termasuk untuk mengungkapkan kebenaran dalam kasus-kasus pelik sehingga sangat membantu kita dalam menemukan kebenaran dan keadilan sejati (Adier, 2009:62-131)

    2. Pelajaran Bahasa

    Pelajaran  bahasa melatih dan mengkondisikan agar kita benar-benar literat terhadap berbagai hal penting dalam kehidupan. Bahasa menjadi alat tak tergantikan untuk mencapai kehidupan yang seutuhnya, kehidupan tak berhenti belajat. Lewat pembelajaran bahasa kita melatih kepekaan dalam mendengar, berbicara, membaca, dan menulis untuk mencapai literasi penuh. Bahasa merupakan alat untuk membentuk, menyusun, mengevaluasi, dan mengapresiasi pemikiran serta perasaan kita. Kemampuan bahasa juga bisa menata, menjernihkan, menghubungkan, memilah hubungan, serta menghubungkan kembali pemikiran dan perasaan. Membaca dengan literasi penuh akan menggiring kita untuk memahami pesan-pesan moral dari apa yang kita baca. Sebagai guru dan orang tua, kita harus jeli membaca ketika murid berbicara. Sebelum merespon ucapan dan perilaku mereka, kita harus membaca dengan cermat apa yang mereka ungkapkan atau lakukan.

     
    3. Ilmu Alam atau IPA

    Ilmu Alam atau IPA membantu kita untuk melakukan penjelajahan rasional atas fenomena alam.

    -IPA murni  menyumbangkan kemampuan untuk mendapatkan pengetahuan tentang struktur dan operasi elemen-elemen alam semesta, pencarian ini diarahkan untuk memperoleh kebenaran yang bisa dibuktikan kepada semua orang, sehingga mengukuhkan ilmu ini bermanfaar bagi kehidupan

    -IPA terapan menggunakan IPA terapan  dan mengatur manfaatnya, menyesuaikan secara teknis dan ekonomis untuk memudahkan kehidupan

     

    4. Ilmu Sosial atau IPS

    Ilnu Sosial atau IPS berperan dalam mempersiapkan para murid untuk menjadi anggota masyarakat. Setiap kita harus memiliki pemahaman dasar tentang  fungsi-fungsi masyarakat, bagaimana menjalin hubungan sosial di antara kita, hubungan negara kita dengan negara lain, dan bagaimana manusia mempengaruhi dunia atau alam yang mereka huni, bagaimana mengelola sumber daya untuk kesejahteraan jangka panjang, bagaimana menciptakan kerukunan hidip dalam keberagaman. Dalam hal ini pembelajaran IPS harus dikaitkan dengan ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu humaniora lainnya.

     

    II. Kesalahan Pembelajaran

    Manusia diciptakan untuk penyelamat kehidupan, bukan untuk merusak. Jika ada manusia yang tega “merusak/ kehidupan, berarti ada sesuatu yang salah dalam proses mendidik mereka. Ada beberapa  kesalahan pembelajaran, yaitu:

    1. Anak-anak yang gagal dan sekolah yang gagal adalah sebuah indikasi dari adanya sistem yang salah, bukan otak yang salah (Eric Jansen: 2008)

    2. Kondisi keseharian di sekolah seringkali tidak mampu mengakomodasi kebutuhan siswa secara keseluruhan, sehingga mereka mencari kompensasi

    3. Proses pembelajaran yang mengutamakan otak kiri, sehingga  seringkali hal tersebut  menghambat kreatifitas, karena kebanyakah anak-anak memiliki kreatifitass tinggi (yang diatur oleh otak kanan) .(Huinever Eden dalam Veronica, Majalah Nirmala, Okt 2008

    4. Kurikulum dan pendidikan seolah hanya berpihak kepada anak yang sukses dan ramah kepada mereka yang “menang”:(baca juara)

    5. Sidiarto berkesimpulan bahwa “tidak hanya kehilangan kreativitas, meningkatnya kekerasan yang dilakukan oleh anak sebagai salah satu akibat metode pembelajaran yang mengutamakan otak kiri. Pembelajaran yang demikian juga membuat orang menjadi stress, bahkan musikpun tidak sempat lagi mereka nikmati karena sibuk menganalisis, serta akan menciptakan orang-orang yang selalu berkompetisi dan selalu memandang dati sisi menang kalah (Paul E Dennison: Pencipta Brain Gym).

    6. Sekolah-sekolah yang selama ini disebut unggulan, sebetuknya tidak lebih dati upaya memacu anak untuk meraih prestasi setinggi-tingginya sehingga anak dibebani beban belajar yang berlebihan (Alfie Kohn, 2009).

    7. Di kelas remedial, mereka tidak dibantu belajar, mereka hanya dibantu untuk mendapatkan nilai bagus. Cara ini tidak memberikan manfaat apapun, bahkan sesungguhnya sangat berbahaya (Kohn, 2009:156-157).

    8.Standar tes yang populer digunakan saat ini justru membuat ruang kelas jauh dari kehidupan intelektual, dan kondisi ini mengakibatkan nilai-nilai yang dipelajari oleh anak tidak sinkron dengan perilaku mereka sehari-hati. Meteka rajin, disiplin, kolaboratif saat di sekolah, sedangkan di luar itu bertindak lain, bahkan bertentangan. Hasil pengkajian tersebut memberikan gambaran bahwa proses pembelajaran di pendidikan formal juga memikiki andil dalam proses “tercabutnya” anak-anak dari akar budaya yang melingkupinya.

     

    III. Penerapan  Pendekatan Brain Based  Learning

    Eric Jensen (2008) seorang ahli pembelajaran yang berbasis cara kerja otak (Brain Based Learning) mengungkapkan bahwa otak memang tidak dirancang untuk mengikuti instruksi formal. “Dalam kenyataanya, otak sama sekali tidak didesain untuk efesiensi dan ketertataan. Justru otak berkembang paling baik melalui seleksi dan kemampuan bertahan hidup. Semua ini diperoleh melalui pengalaman menghadapi dan menyelesaikan masalah kemampuan otak bekerja makin optimal, karena sebuah persoalan yang dialami menuntut otak bekerja lebih keras.

    Penerapan pembelajaran  yang berbasis otak bertujuan mengembalikan prises pembelajaran kepada hakikat, yaitu pembelajaran yang sesuai dengan cara otak bekerja sehingga hasilnya optimum. Oleh karena salah satu  sifat otak bekerja 99% berkembang secara tanpa disadari dan hanya 1% yang berlangsung melalui pembelajaran disadari. Oleh karena itu proses pembelajaran harus mampu menciptakan iklim yang mendorong terjadinya proses-proses yang tanpa disadari.

    Contoh:

    Ketika siswa merancang sebuah proyek daur kimbah, semua kompetensi akademik yang terkait dengan tema tersebut akan diransang untuk berkembang. Semua kemampuan-kemamouan yang secara kognitif diperoleh secara terpisah (biologi, fisika, kimia, matematika, ekonomi, geografi, bahada, PJNm seni, dsb) ajan bersinergi dan membangun sebuah sistem berfikir yang terfokus pada penyelesaian persoalan, Lebih dari itu, kemampuan-kemampuan psikomotorik dan afektif seperti religiusitas, kreatif, disiolin, tekun, rajin, kolaboratif, tanggung jawab secara tanpa disadari akan diransang untuk berkembang, dan yang paling utama siswa terbiasa bekerja sama dan berkomunikasi dengan orang lain baik di kelas sekolah, di rumah dan di masyarakat.

     

    IV. Implementasi Pembelajaran  IPS

    1. Pembelajaran Sejarah

    Untuk mengembalikan fungsi dan peran pembelajaran sejarah sebagai proses membangun kepribadian peserta didik, kita perlu melakukan berbagai pembenaran, terutama pengirganisasian materi pembelajaran sejarah, kemudian dibuat pemetaan, pengorganisasian, dan pemetaan inilah menjadi dasar kurikukum, yang selanjutnya dijabarkan ke dalam bahan ajar dalam bentuk buku teks, dan direfleksikan dalam pembelajaran dengan perencanaan yang dilengkapi dengan strategi pembelajaran yang sesuai. Di sinilah peru model pembelajaran bervariasi.

     

    2. Pembelajaran Geografi

    Pembelajaran geigrafi meliputi 3 aspek, yaitu  Geografi  dimensi ruang, Gografi  manusia, dan geografu regionsl,  sehingga  pembelajarannya difokuskan pada ke 3 hal tersebut. Di mana Geografi mengkaji kehidupan dari dimensi ruang. Literasi keruangan dan keterampilan geografi meliouti pengetahuan dasar geografi dan terapannya dalam kehidupan sehari-hari. Geografi Manusia meliputi dinamika kependudukan Indonesia dan keragaman budaya bangsa. Sedangkan geografi regional  meliputi konsep wilayah, pola sebaran, dan interaks7 desa-kota, dan regionalusasi geografi di dunia.

     

    3. Pembelajaran Sosiologi

    Proses pembelajaran sosiologi membutuhkan pembelajaran khusus, di mana peran guru sangat penting untuk mendorong timbulnya rasa ingin tahu, terbuka, kritis, dan responsif terhadap masalah sosial. Untuk mendukung proses pembelajaran ini, setidaknya ada 3 model pembelajaran yang layak untuk dipertimbangkan:
    a. Model Pembelajaran Berbasis Keingintahuan (Inquiry-based learning)
    b. Model Pembelajaran Berbasis Pemecahan Masalah (Problem solvingy-based learning)
    c.Model Pembelajaran Berbasis Proyek  (Project-based learning)

     

    4. Pembelajaran Ekonomi

    Pembelajaran ekonomi menggunakan pendekatan scientifik, dan pwndekatan ini dapat menggunakan  steategi dan model pembelajaran seperti: discovery learning, inquiry learning, project based learning, dan problem based learning. Namun demikian, pendidik dapat menggunakan pendekatan, metode, dan model pembelajaran lain sesuai karakteristik peserta didik, isu perkembangan perekonomian, dan ekosistem pendidikan. Misalnya terjadinya kenaikan harga kebutuhan pokok, fluktuasi nilai tukar mata uang, perdagangan bebas, masalah lapangan kerja, dsb. Dalam menyelesaikan masalah-masalah tersebut guru dapat menggunakan pendekatan kontekstual (cobtextual teaching and learning), pembelajaran kooperatif (kooperatif kearning), pemecahan masalah (problem solving), dan model lainnya sesusi dengan permasalahan yang dipelajari.

     

    V. Penutup

    Sekolah adalah salah satu saluran atau media dari proses pembudayaan. Media lainnya adalah keluarga dan institusi lainnya yang ada di masyarakat. Dalam konteks inilah pendidikan disebut sebagai proses untuk “memanusiakan manusia”. Pendidikan bertujuan membentuk  agar manusia dapat menunjukkan perilakunya sebagai makhkuk yang berbudaya yang mampu bersosialisasi dalam masyarakatnya dan menyesuaikan diri dengan lungkungan dalam upaya mempertahankan kelangsungan hidup, baik secara pribadi, kelimpok, maupun masyarakat secara keseluruhan.

     

    Daftar Pustaka

    Jansen, Erick. 2007. Brain-Basef Learning, Pembelajaran Berbasis Kemampuan Otak, Cara Baru dalam Pembelajaran dan Pelatihan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

    Kohn, Alfie. 2009. Memilih Sekolah Terbaik untuk Anak, Mendobrak Cara Belajar Tradisional. Jakarta: Buah Hati

    FacebookTwitterGoogle+Share

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Tulisan Terkini
    Buku Pegangan Siswa
    Diktat Ekonomi SMA/MA

    Bagaimana menurut pendapat Anda tentang website Fitriany Gustariny ini?

    Lihat Hasil Jajak Pendapat

    Loading ... Loading ...

    Laporan Karya Inovatif
    Berita Lainnya
    SONIAN ARTIS DAN GURU
    SONIAN ARTIS DAN GURU
    SONIAN ARTIS DAN GURU SONIAN ARTIS DAN GURU Artis Film shootin
    SONIAN MALAM MINGGU, AKU, DAN KAMU
    SONIAN MALAM MINGGU, AKU, DAN KAMU
    SONIAN MALAM MINGGU, AKU, DAN KAMU SONIAN MALAM MINGGU, AKU, DA
    SONIAN GURU DAN DANA GAJAH PLUS SONIAN GURU DAN DANA GAJAH PL
    SONIAN OMBAK DAN AKU
    SONIAN OMBAK DAN AKU
    SONIAN OMBAK DAN AKU SONIAN OMBAK DAN AKU Debur ombak putih
    SONIAN PERAHU DAN AKU
    SONIAN PERAHU DAN AKU
    SONIAN PERAHU DAN AKU SONIAN PERAHU DAN AKU Kembara lautan Ta

    Temukan Kami di Facebook

    Pencarian

           

    .

    Galeri Foto
    Klik Slideshow di bawah untuk
    melihat Galeri Foto secara lengkap
    20150203_121026-1.jpg
    20150203_121051-1.jpg
    IMG_39759949695819.jpeg
    20131120_110407-1.jpg
    20131120_110424-1.jpg
    20131219_140230.jpg
    Cerita Bergambar
    Kalender
    Januari 2021
    S M T W T F S
    31 1 2 3 4 5 6
    7 8 9 10 11 12 13
    14 15 16 17 18 19 20
    21 22 23 24 25 26 27
    28 1 2 3 4 5 6
    Buku Tamu