Daftar Tulisan
Arsip Tulisan
Statistik Kunjungan
  • 366152Total Pengunjung:
  • 8Hari ini:
  • 93Kemarin:
  • 0Online:
Panel Login

Selamat Datang di www.FitrianyGustariny.com || Website Pribadi Ir. Fitriany Febby Adiana Gustariny, SE, MP, M.Pd.E (Guru SMA Negeri 2 Rambatan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat)

Catatan  6 Seminar Nasional  Sejarah:  API  Akar Gerakan Nasioalisme  di Aceh Awal Abad  XX

A.Pengantar

“Nasionalisme secara bahasa berasal dari kata nation (Inggris) dan natie (Belanda) yang berarti “bangsa” (sekelompok masyarakat yang mendiami wilayah tertentu dan memiliki hasrat serta kemauan untuk bersatu karena adanya persamaan nasib, cita-cita dan tujuan). Nasionalisme secara istilah adalah suatu paham yang berpendapat bahwa kesetiaan tertinggi individu harus diserahkan kepada negara kebangsaan. Sarjana lain mengatakan nasionalisme adalah suatu reaksi terhadap kolonialisme, yang berasal dari sistem eksploitasi yang selalu menimbulkan pertentangan kepentingan secara terus-menerus. Pengertian lain nasionalisme adalah suatu ideologi yang meletakkan bangsa di pusat masalahnya dan berupaya mempertinggi keberadaan bangsa, yang sasaran utamanya yaitu; otonomi nasional, kesatuan nasional dan identitas nasional”, demikian kata pembuka yang disampaikan oleh  Narasumber Kelima Hari Pertama Seminar  Hairul Masri  (Mahasiswa  Pascasajana Univrrsitas Sumatera Utara Jurusan Sejarah) kepada para peserta Seminar Nasional  71 Tahun Indonesia Merdeka di Convention Hall Universitas Andalas Padang, Selasa  23 Agustus 2016.

Penyampaian Materi Seminar oleh Husni Marlina & Hairul Masri (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Jurusan Sejarah) dengan judul "Angkatan Pemuda Indonesia Akar Gerakan Nasioalisme  di Aceh Awal Abad  XX" (Convention Hall Universitas Andalas Padang, Selasa 23 Agustus 2016)

Penyampaian Materi Seminar oleh Husni Marlina & Hairul Masri (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Jurusan Sejarah) dengan judul “Angkatan Pemuda Indonesia Akar Gerakan Nasioalisme  di Aceh Awal Abad  XX” (Convention Hall Universitas Andalas Padang, Selasa 23 Agustus 2016)

 

B. Isi Seminar

Nara sumber  untuk tema yang dibahas kali ini ada  2 orang yaitu, Husni Marlina & Hairul Masri (Mahasiswa  Pascasajana Univrrsitas Sumatera Utara Jurusan Sejarah) . Adapun materi seminar yang disampaikan oleh berjudul  “Angakatan Pemuda Indonesia  Akar Gerakan Nasioalisme  di Aceh Awal Abad  XX.  Hal apa saja yang disampaikan dapat dibaca  pada paparan  di bawah ini.

Nara sumber memaparkan bahwa lahirnya nasionalisme di Indonesia berkaitan dengan kedatangan Belanda, salah satu negara Eropa yang mencoba mencari tanah jajahan di Asia (Nusantara), kemudian berhasil menjajah jajaran pulau-pulau yang dikuasai oleh raja-raja sebagai penguasa tertinggi pada saat itu. Belanda mampu menaklukkan kerajaan-kerajaan mulai dari Sabang di ujung barat dan Merauke di ujung timur. Banyak kerugian yang ditimbulkan sebagai akibat dari penjajahan ini baik secara material maupun secara moril dan lain-lain. Misalnya untuk melawan dan mengusir penjajah tidak sedikit kerajaan-kerajaan yang mengadakan pemberontakan dengan peperangan, seperti Perang Aceh, Perang Diponegoro, Perang Padri dan lain-lain.

Lebih dari 3 abad Belanda memberikan penderitaan terhadap Indonesia secara terus menerus hingga pada titik dimana Belanda menyerah dan bertekuk lutut terhadap hegemoni Jepang. Berbekal “Saudara Tua” yang digemakan di Indonesia, maka Jepang pun diterima dengan senang hati oleh kalangan Nasionalis Indonesia. Karena Jepang menjanjikan kemerdekaan kepada Indonesia (negara-negara di Asia) dari jajahan kaum kulit putih. Sejak tahun 1942 Jepang berkuasa di Indonesia.

Kedatangan pasukan Jepang rupanya menjadi malapetaka baru bagi Indonesia. Penduduk Indonesia merasakan tindakan keras dari pasukan yang sebelumnya dianggap akan dapat membawa Indonesia menjadi negara merdeka. Hal inilah yang akhirnya menyebabkan lahirnya semangat nasionalisme untuk mengusir tindakan kejam tersebut. Berbekal nasionalisme yang kuat, dan perjuangan yang panjang, hingga akhirnya mampu memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Ketika kemerdekaan telah berhasil diproklamirkan, bukan berarti Indonesia telah aman dari gangguan bangsa asing, terutama Belanda yang sudah mengintai untuk menguasai Nusantara seperti sediakala. Selain itu Jepang pun belum angkat kaki dari Indonesia. Banyak gerakan-gerakan nasionalis yang berusaha menjaga dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, Salah satunya adalah gerakan nasionalisme yang ada di Aceh yaitu Angkatan pemuda Indonesia (API).

Selanjutkan dijelaskan oleh nara sumber bahwa Angkatan pemuda Indonesia (API) bermarkas di Kutaradja (Banda Aceh sekarang) yang diketuai oleh Sjamaun Gaharu. Dilegitimasi oleh residen Aceh (Teuku Nyak Arif) pada 27 Agustus 1945 yang kemudian diresmikan kembali oleh beliau pada 12 Oktober 1945. Gerakan ini meliputi seluruh Aceh dengan mendirikan wakil-wakil markas daerah di seluruh Aceh. Berbagai upaya yang dilakukan oleh API guna mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Pada awal berdirinya, API sempat diminta Jepang untuk dibubarkan dengan alasan pendiriannya tidak mendapatkan ijin dari pembesar Jepang dan melanggar undang-undang dalam keadaan perang. Namun, karena pihak Aceh telah mengetahui bahwa Jepang telah kalah perang dengan sekutu maka API tetap berdiri dan berjuang demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Berdasarkan uraian nara sumber membuat banyak pertanyaan dari para peserya seminar. Misalnya Bagaimana bentuk-bentuk nasionalisme API? Apa kontribusi API terhadap kemerdekaan Republik Indonesia? Pertanyaan-pertanyaan tersebutlah yang nanti akan diuraikan dalam tulisan ini.

1.  API Melucuti  Senjata Jepang

Permasalahan dalam melucuti senjata milik Jepang menjadi suatu bagian penting di Aceh, yang perlu untuk segera dituntaskan karena berkaitan dengan menjaga kemerdekaan Indonesia. Dalam proses perebutan senjata tersebut langkah-langkah yang umum dilakukan oleh rakyat Aceh adalah dengan jalan diplomasi dan intimidasi. Keputusan untuk melucuti senjata Jepang inilah yang menjadi salah satu kunci keberhasilan mempertahankan Tanah Aceh dari keinginan kolonial untuk kembali berkuasa.  

Di bawah pimpinan Teuku Nyak Arif, API mulai merencanakan operasi pelucutan senjata Jepang yang akan digunakan untuk mempersenjatai pasukan keamanan, guna menjaga keamanan dan keselamatan rakyat di Aceh. Perundingan yang dilakukan oleh Residen Pertama Republik Indonesia di Aceh, Teuku Nyak Arif dengan Residen Jepang untuk Aceh Mayjen Shazuburo Lino menghasilkan kesepakatan bahwa senjata-senjata Jepang hanya boleh diserahkan kepada pasukan API sebagai pasukan resmi pemerintah Indonesia.

 
2. API  Mengengeluarkan Ultimatum terhadap Pasukan yang Berkhianat dan Menyengsarakan Rakyat

Namun permasalahannya pada saat itu ada pihak yang juga ingin memiliki senjata milik Jepang, yaitu para uleebalang yang pro terhadap Jepang. Rebutan senjata antara API& PUSA disatu sisi dengan uleebalang (Pidie) disisi lain. Berawal dari rebutan senjata Jepang ini kemudian berakhir dengan pertumpahan darah. Yang dinamakan peristiwa cumbok (perang cumbok)

Berita penyerahan senjata Jepang kepada API terdengar oleh pihak uleebalang yang diketuai oleh Teuku Daud Cumbok, tujuan mereka merebut senjata adalah supaya mereka juga bisa bertahan menjadi penguasa di Aceh karena mereka khawatir akan adanya sistem pemerintahan yang demokratis di Indonesia, karena sebelumnya mereka telah turun temurun sebagai penguasa di Aceh, maka untuk memusnahkan orang-orang yang tidak setuju dengan pola kekuasaan uleebalang maka akan dimusnahkan dengan senjata. Disisi lain penyerahan senjata juga terdengar oleh rakyat aceh yang bergabung dalam suatu barisan dan menggunakan kesempatan ini sebagai moment untuk menumpas uleebalang kususnya di Pidie seperti Teuku Daud Cumbok.  Sulit membedakan  mana pasukan uleebalang Teuku Daud Cumbok dan mana masyarakat biasa, sehingga banyak masyarakat tak berdosapun menjadi korban kebuasan Daud Cumbok cs.

Keserakahan uleebalang yang ingin mempertahankan kekuasaan dan dilakukan secara kejam membuat mereka dicap sebagai penghianat bangsa, yang tentunya akan mendatangkan pengaruh besar bagi kesatuan Bangsa Indonesia. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terhadap kesatuan Bangsa Indonesia maka dari pihak Markas Besar (API) yang ditandatangani oleh Sjamaun Gaharu mengeluarkan 2 ultimatum yaitu; (1) kelompok yang berkedudukan di Cumbok dan tempat lain, yang bersenjata dan melawan rakyat adalah penghianat dan musuh Republik Indonesia, (2) meminta agar kelompok tersebut menyerah, jika tidak, maka akan ditaklukan dengan cara kekerasa

 
3. API Mencegah Terjadinya Penumpahan Darah oleh TPR

Nasionalisme API diuji bukan hanya lewat pasukancumbok terutama ujian nasionalisme kepada pimpinan API yaitu Sjamaun Gaharu. Namun juga oleh barisan yang sebelumnya berada satu kubu dengan API yaitu “Barisan Mujahidin”yang diketuai oleh Tengku Amir Husin Al-mujahid.Dengan menggunankan semangat pemuda PUSA yang berhasil ia dekati maka Barisan Mujahidin mendapat dukungan dari pemuda PUSA dan membentuk TPR (tentara perjuangan rakyat) dengan dalih “revolusi sosial” nya. Karena bagi mereka peristiwacumbok hanya memusnahkan uleebalang Pidie, Lam Meulo dan sekitarnya saja, bukan seluruh Aceh.

Pada 22 februari 1946 pasukan TPR bergerak menuju Kutaraja, guna mengadakan revolusi sosial besar-besaran.  Dengan kekuatan lebih dari 50 truk yang langsung dipimpin oleh Tengku Amir Husin Al-mujahid, sepanjang perjalanan mereka menuju Kutaraja, jika mereka menemukan uleebalang maka langsung mereka tangkap, seperti yang sebelumnya telah dilakukan terhadap uleebalang Kuala Simpang dan Langsa.  Mendengar kabar tersebut pihak API sebagai pihak yang mempunyai kewajiban besar dalam memediasi antara TPR dan uleebalang juga bersiap siaga untuk menghalangi kemungkinan buruk yang terjadi. Kemudian menyiapkan pasukan untuk menghalangi TPR, sebanyak dan sekuat apapun TPR tetap saja tidak akan bisa mengimbangi kekuatan API, karean API telah dipersenjatai dengan resmi dan pasukannya terorganisir juga telah lihai dalam bertempur, mengingat pasukan API adalah bekas anak didikan militer Jepang. Yaitu masa ketika mereka menjadi anggota gyugun, dibandingkan dengan TPR yang masih sangat awam dunia pertempuran.

Melihat kekuatan TPR yang sangat timpang, maka pihak API mengadakan diskusi terlebih dahulu mengenai tindakan yang akan di ambil, dan memutuskan untuk mencegah terjadinya pertumpahan darah lagi, keputusan ini dikeluarkan oleh residen Aceh yaitu Teuku Nyak Arief.  Setelah pasukan TPR sampai di Kutaraja pimpinan API segera mengambil tindakan yaitu dengan memanggil pimpinan TPR untuk membicarakan apa sebenarnya yang mereka inginkan, jawabanpun ditemukan, yaitu TPR ingin T. Nyak Arif, Sjamaun Gaharu dan T. Hamid Azwar sebagai orang besar di API dituntut turun dari jabatannya. Karena mereka dianggap sebagai penghalang terjadinya revolusi, mengingat T. Nyak Arief dan T. Hamid Azwar juga masih keturunanuleebalang yang dianggap TPR sebagai kaum feodal yang harus dimusnahkan. Setelah melaui beberapa pertimbangan, yang intinya tidak ingin ada pertumpahan darah lagi di Aceh, demi kesatuan Republik Indonesia karena kemerdekaan baru saja diraih dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan masih sangat panjang, maka keputusan pun diambil untuk meyerahkan kekuasaan API kepada pimpinan TPR, karena memang itulah yang TPR inginkan. Tengku Amir Husin Al-mujahid menggantikan posisi Sjamaun di API dan Husin Yusuf menggantikan posisi T. Nyak Arief sebagai anggota staff umum komandemen Sumatera.

Refetensi

Proseding Seminar Nasional 71 Tahun Indonesia Merdeka. 2016. Jaringan Kebangsaan Antar-Nusa. Padang: Labor Sejarah Univrrsitas Andalas.

Hasil rekaman penyampaian presentasi oleh Husni Marlina & Hairul Masri tentang  “Akar Gerakan Nasioalisme  di Aceh Awal Abad  XX” , Selasa 23 Agustus 2016.

FacebookTwitterGoogle+Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terkini
Buku Pegangan Siswa
Diktat Ekonomi SMA/MA

Bagaimana menurut pendapat Anda tentang website Fitriany Gustariny ini?

Lihat Hasil Jajak Pendapat

Loading ... Loading ...

Laporan Karya Inovatif
Berita Lainnya
SONIAN ARTIS DAN GURU
SONIAN ARTIS DAN GURU
SONIAN ARTIS DAN GURU SONIAN ARTIS DAN GURU Artis Film shootin
SONIAN MALAM MINGGU, AKU, DAN KAMU
SONIAN MALAM MINGGU, AKU, DAN KAMU
SONIAN MALAM MINGGU, AKU, DAN KAMU SONIAN MALAM MINGGU, AKU, DA
SONIAN GURU DAN DANA GAJAH PLUS SONIAN GURU DAN DANA GAJAH PL
SONIAN OMBAK DAN AKU
SONIAN OMBAK DAN AKU
SONIAN OMBAK DAN AKU SONIAN OMBAK DAN AKU Debur ombak putih
SONIAN PERAHU DAN AKU
SONIAN PERAHU DAN AKU
SONIAN PERAHU DAN AKU SONIAN PERAHU DAN AKU Kembara lautan Ta

Temukan Kami di Facebook


       

.

Galeri Foto
Klik Slideshow di bawah untuk
melihat Galeri Foto secara lengkap
20150203_121026-1.jpg
20150203_121051-1.jpg
IMG_39759949695819.jpeg
20131120_110407-1.jpg
20131120_110424-1.jpg
20131219_140230.jpg
Cerita Bergambar
Kalender
September 2020
S M T W T F S
30 31 1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 1 2 3
Buku Tamu